Tidak kurang dan tidak lebih. Tidak megurangi dan tidak menambahi.

1. Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bersiwak.

2. Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktu yang pas, karena hal tersebut lebih mendatangkan konsentrasi dan jiwa lebih tenang. Baca entri selengkapnya »

Iklan

1. Berdoa di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu beliau menyebutkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila keluar (rumah) untuk pergi shalat (ke masjid) beliau berdoa,

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا, وَ اجْعَلْ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا, وَ اجْعَلْ مِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا, وَ اجْعَلْ مِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا, اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا.

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya. (Muttafaq ’alaih).

2. Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati, ikutilah, dan yang tertinggal, sempurnakanlah.” (Muttafaq ’alaih). Baca entri selengkapnya »

1. Hormati perasaan orang lain, jangan mencoba menghina dan menilai mereka cacat.

2. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlak mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. Baca entri selengkapnya »

1. Hendaklah bercandanya tidak mengandung Nama Allah, ayat-ayatNya, Sunnah RasulNya atau syi’ar-syi’ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olok sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang ahli baca Al-Qur’an yang artinya,

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66).

2. Hendaklah bercandanya benar, tidak mengandung dusta. Dan hendaknya orang yang bercanda tidak mengada-adakan cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani). Baca entri selengkapnya »

1. Ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap ingin tampil dan membela diri dan nafsu.

2. Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya,

“Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah).” (QS. An-Nisa : 59). Baca entri selengkapnya »